Ibuku Guruku (Metode Home Schooling Group, Alternatif Model Pendidikan Anak Usia Dini)
Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Mei 23, 2007
Oleh: Dr. Ir. Yuliana, M.Si.
Ketua Kelompok Peduli Ibu dan Generasi (el-Diina Pusat) dan Anggota Dewan Pakar ICMI Muda Pusat Bidang Pemberdayaan Perempuan
Keluarga Samara. Hasil penelitian neurologi dan kajian pendidikan anak usia dini cukup memberikan bukti betapa pentingnya stimulasi sejak usia dini dalam mengoptimalkan seluruh potensi anak guna mewujudkan generasi mendatang yang berkualitas dan mampu bersaing dalam percaturan dunia yang mengglobal pada milenium ke tiga ini. Di samping itu, Rasulullah SAW bersabda uthlubul’ilma minalmahdi ilal lakhdi yang artinya “tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat”.
Hadits tersebut menekankan betapa pentingnya seseorang belajar sedini mungkin. Tentu kesadaran akan perlunya belajar sejak usia dini ini tidak muncul dari si bayi yang ‘belum bisa apa-apa’, namun dimulai dari kesadaran orang tuanya untuk memberikan pembelajaran-pembelajaran kepada anaknya sejak dini. Karena pada dasarnya, ketika seorang manusia telah terlahir ke dunia ini, ia telah dilengkapi berbagai perangkat seperti panca indera dan akal untuk menyerap berbagai ilmu.
Inilah peletak dasar pentingnya pendidikan usia dini. Sejak dini anak harus diberikan berbagai ilmu (dalam bentuk berbagai rangsangan/stimulan). Mendidik anak pada usia ini ibarat membentuk ukiran di batu yang tidak akan mudah hilang, bahkan akan membekas selamanya. Artinya, pendidikan pada anak usia dini akan sangat membekas hingga anak dewasa. Pendidikan pada usia ini adalah peletak dasar bagi pendidikan anak selanjutnya. Keberhasilan pendidikan usia dini ini sangat berperan besar bagi keberhasilan anak di masa-masa selanjutnya.
Upaya yang dilakukan oleh pemerintah dan masyarakat dalam meningkatkan akses pelayanan pendidikan anak usia dini terus dilakukan, namun data membuktikan dari 28 juta anak usia 0-6 tahun, sebanyak 73 persen atau sekitar 20,4 juta anak belum mendapatkan layanan pendidikan, baik secara formal maupun non-formal. Khusus anak usia prasekolah, akses layanan pendidikan anak usia dini masih rendah (sekitar 20.0%). Artinya sebanyak 80.0% lainnya belum terlayani di pusat-pusat pendidikan anak usia dini. Kesenjangan antara pedesaan dan perkotaan juga terjadi (Jalal 2002). Hasil yang serupa juga ditemui pada penelitian yang dilakukan oleh Yuliana dkk. di penghujung tahun 2004 dan awal tahun 2005 di Pulau Jawa, bahwa sebagian besar (86.3% di pedesaan dan 73.2% di perkotaan) anak usia prasekolah belum mengakses program-program pendidikan yang ada baik di jalur formal maupun non formal.
Penyebabnya karena masih kurangnya sarana dan prasarana pendidikan khusus untuk usia dini. Selain itu mahalnya biaya pendidikan, semakin menyulitkan anak-anak untuk mendapatkan kesempatan belajar, terutama untuk anak usia dini. Masyarakat secara umum tidak mampu menjangkaunya. Sebagai contoh ada sekolah di Jakarta menarik uang pendaftaran untuk jenjang prasekolah Rp 15 juta di luar uang bulanan Rp 1 juta. Dengan biaya sebesar itu tentunya hanya anak-anak dari kalangan tertentu saja yang mendapatkan kesempatan memperoleh pendidikan yang ”bermutu”.
Padahal keberlangsungan pendidikan untuk anak usia dini, tidak harus dilakukan dengan memasukkan mereka ke dalam lembaga pendidikan. Ibu, adalah SDM yang sangat berpotensial untuk menjadi guru bagi anak-anak usia dini. Ibu memiliki interaksi kuat dengan anak, karena dialah orang yang pertama kali menjalin interaksi; memahami dan selalu mengikuti seluruh aspek tumbuh kembang anak tanpa ada yang terlewat. Ibu adalah orang pertama yang menjadi teladan bagi anak, karena ialah orang terdekat anak. Ibulah yang mampu menerapkan prinsip belajar untuk diterapkan, karena ia yang paling banyak memiliki waktu bersama anak. Ibu adalah yang paling berambisi menyiapkan anak yang sholeh, karena baginya hal tersebut menjadi investasi terbesar untuk akhirat. Akhirnya, memang hanya ibu yang memiliki peluang terbesar mendidik anak dengan penuh ketulusan, kasih sayang dan pengorbanan yang sempurna.
Peluang Ibu menjadi guru bagi anak-anak usia dini sangat besar sekali. Masih banyak Ibu-Ibu yang ada di negeri ini tidak bekerja dan mengurus anak-anaknya secara langsung. Bila Ibu yang menjadi guru maka biaya pendidikan yang dikeluarkan tidaklah besar, karena Ibu dalam menjalankan perannya sebagai pendidik dilakukan di dalam rumah dengan waktu yang disesuaikan dengan kondisi anak dan Ibu. Berbeda dengan memasukkan anak ke dalam sekolah, mereka terikat dengan jadwal belajar tertentu. Ibu pun harus mengeluarkan biaya yang mahal. Menjadikan Ibu sebagai guru dan melaksanakan proses pendidikan dengan metode kelompok belajar bersama di rumah, itulah yang dijalankan dalam program Ibuku Guru Kami dengan metode home schooling group.
Mengapa pendidikan anak usia dini dilakukan di rumah?
Rumah merupakan lingkungan terdekat anak dan tempat belajar yang paling baik buat anak. Di rumah anak bisa belajar selaras dengan keinginannya sendiri. Ia tak perlu duduk menunggu sampai bel berbunyi, tidak perlu harus bersaing dengan anak-anak lain, tidak perlu harus ketakutan menjawab salah di depan kelas, dan bisa langsung mendapatkan penghargaan atau pembetulan kalau membuat kesalahan. Disinilah peran ibu menjadi sangat penting, karena tugas utama ibu sebetulnya adalah pengatur rumah tangga dan pendidik anak. Di dalam rumah banyak sekali sarana-sarana yang bisa dipakai untuk pembelajaran anak. Anak dapat belajar banyak sekali konsep tentang benda, warna, bentuk dan sebagainya sembari ibu memasak di dapur.
Anak juga dapat mengenal ciptaan Allah melalui berbagai macam makhluk hidup yang ada di sekitar rumah, mendengarkan ibu membaca doa-doa, lantunan ayat-ayat Al-Qur’an dan cerita para Nabi dan sahabat dalam suasana yang nyaman dan menyenangkan. Oleh sebab itu rumah merupakan lingkungan yang tepat dalam menyelenggarakan pendidikan untuk anak usia dini seperti yang dilakukan semasa pemerintahan Islam, bahwa pendidikan untuk anak-anak di bawah tujuh tahun dibimbing langsung oleh orang tuanya.
Al-Abdary dalam kitab Madkhalusi asy-Syar’i asy-Syarif mengkritik para orang tua dan wali yang mengirimkan anak-anaknya ke sekolah pada usia kurang dari tujuh tahun. Ia mengatakan:“Dahulu para leluhur kita yang alim mengirimkan putera-puteranya ke Kuttab/sekolah tatkala mereka mencapai usia tujuh tahun. Sejak usia tersebut orang tua diharuskan mendidik anak-anaknya mengenal shalat dan akhlak yang mulia. Akan tetapi saat ini amat disesalkan bahwa anak-anak zaman sekarang menuntut ilmu pada usia yang masih rawan (4-5) tahun. Para pengajar hendaknya hati-hati mengajar anak-anak usia rawan ini, karena dapat melemahkan tubuh dan akal pikirannya”.
Metode home schooling group ini dapat diakses oleh seluruh lapisan masyarakat karena dalam pelaksanaannya bersifat dinamis, dapat bervariasi sesuai dengan keadaan sosial ekonomi orang tua. Keterlibatan orang tua (ibu) dalam home schooling group sangat dominan dan jarak tempuh anak ke kelompok-kelompok home schooling dapat ditempuh anak dengan berjalan kaki (maksimal 1 km). Hal demikian menjadikan keunggulan dari home schooling (murah, ibu dekat dengan anak, dan dinamis). Mengapa harus dalam bentuk grup atau kelompok ? Hal tersebut bertujuan untuk menanamkan konsep sosialisasi pada anak, membangun ukhuwwah Islamiyah di kalangan Ibu disamping dapat meringankan beban ibu dan upaya memperbaiki lingkungan masyarakat
Kurikulum home shcooling group diharapkan dapat mencerminkan kegiatan untuk membangun kemampuan kepribadian anak dan kemampuan ilmu Islam/tsaqofah (mencakup materi aqidah, bahasa arab, Al-Qur’an, As-Sunnah, fiqh, siroh nabi dan sejarah kaum muslimin) dan membangun kemampuan keterampilan sainteks (kognitif, bahasa, motorik kasar, motorik halus, seni, kemandirian dan sosial emosional). Kegiatan tersebut dilakukan dengan metode pengajaran bermain sambil belajar melalui keteladanan, mendengar, mengucapkan, bercerita dan pembiasaan. Pendekatan pembelajaran dalam home schooling group haruslah berorientasi pada prinsip-prinsip perkembangan anak, kebutuhan anak, menggunakan pendekatan tematik, kreatif dan inovatif, lingkungan kondusif dan mengembangkan kemampuan hidup.
Peran Ibu sebagai pendidik pertama dan utama, tidak hanya dalam rangka mendidik anak-anaknya semata. Hal ini disebabkan, anak-anaknya berinteraksi dengan anak orang lain di lingkungannya. Anak kita membutuhkan teman untuk belajar bersosialisasi dan berlatih menjadi pemimpin. Kesadaran kita sebagai seorang muslim yang peduli dengan kondisi masyarakatnya akan menumbuhkan rasa tanggungjawab untuk turut mendidik anak-anak lain sebagai generasi penerus umat. Sehingga Ibu tidak cukup mendidik anak sendiri, tetapi juga perlu mendidik anak-anak lain bersama ibunya yang ada di lingkungannya.
Kesamaan visi dan misi dalam mendidik anak di kalangan orangtua sangat dibutuhkan untuk keberlangsungan aktivitas belajar yang efektif dan efisien. Seringkali selama ini orang tua menyerahkan sepenuhnya pelaksanaan pendidikan anak-anak (termasuk usia dini) kepada sekolah dan guru. Orangtua seharusnya menyadari bahwa kewajiban untuk mendidik anak tidaklah hilang dengan menyekolahkan mereka. Orangtua pun perlu mengkaitkan proses belajar di sekolah dengan di rumah sehingga target pendidikan dapat dicapai.
Menjadi guru bagi anak-anak usia dini, tidaklah berarti Ibu mendidik anaknya secara individual, namun dapat dilakukan secara berkelompok dengan melibatkan para orangtua (Ibu) yang ada di sekitar lingkungannya menjadi team pengajar (guru). Sistem kelompok belajar dalam bentuk grup, selain menumbuhkan kebersamaan dan melatih anak dalam bersosialisasi juga menyuburkan persaudaraan dan kedekatan diantara orangtua sehingga memudahkan memberikan penyelesaian terhadap permasalahan-permasalahan yang muncul dari anak-anak tersebut. Dengan demikian anak-anak usia dini mendapatkan pelajaran dalam bentuk kelompok dan akan melanjutkan pelajaran mereka di rumah bersama ibunya masing-masing.(www.keluarga-samara.com)
Sumber : hti online



Mei 27, 2007 pada 2:57 pm
Apakah home schooling bagus? penasaran aja gimana menurut ibu?
Mei 28, 2007 pada 3:28 am
kayak pondok aja
Juni 4, 2007 pada 4:53 pm
sekolah tetap penting tetapi metodenya yg perlu diubah…
Juni 18, 2007 pada 3:16 am
Assalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh
untuk informasi mengenai informasi mengenai keimanan dan Syariat Islam
http://ahmadsarwat.wordpress.com
Wallahu a’lam bishshawab, wassalamu ‘alaikum warahmatullahi wabarakatuh,
Juli 1, 2007 pada 2:39 am
Saya termasuk yang mendukung konsep home schooling untuk anak saya…semua saya serahkan kepada anak2 mau sekolah formal boleh, dirumah juga boleh. Kalau mau melanjutkan sekolah formal bisa ikut ujian persamaan diknas nantinya, begitu saya meberi pengertian dan kebebasan kepada mereka. Sayang belum banyak yang mendukung ide ini.
Di keluarga saya sering ditanya mau jadi apa anak saya kalau tidak sekolah. Saya jawab jadi diri sendiri yang disukai Allah dan Rasulnya serta Mukminin di dunia. Dan itu tidak ada sekolah formalnya. Saya sendiri harus jujur mengatakan selesai mengikuti pendidikan karena “terpaksa”. Saya tidak pernah berniat sekolah, cuma ingin ortu bahagia dan bangga saja. Alam dan lingkungan yang mengajarkan bagaimana saya harus hidup. Alhamdulillah bisa.
Sulitnya di Indonesia yang “kaya” ini ijazah masih jadi patron para pencari kerja dan para pemilik lapangan pekerjaan. Satu hal lagi tidak semua orang siap jadi enterpreneur alias pengusaha. Mau tidak mau, ijazah adalah keniscayaan…walau saya sendiri sudah berpindah pindah untuk 6 perusahaan tanpa pernah ditanya ijazahnya, bahkan saya dibajak dari perusahaan sebelumnya. Tapi harus saya akui itu saya dapatkan setelah perusahaan pertama tempat saya mendaftar tanya ijazah saya, walau tidak pernah saya tunjukkan (karena ijazah saya ditahan negara-ikatan dinas-red) dia percaya saja. Walhasil Ijazah perlu tapi tidak harus didapat dari sekolah formal toh…
Dalam praktek home schooling masalah yang akan muncul adalah sosialisasi anak jika tidak ada komunitas yang bisa kita bentuk (belajar mandiri) dan ini yang sedang saya alami dan saya berusaha mencarikan jalan keluar. Mungkin ada masukan?
Masalah berikutnya muncul adalah anak berfikir sangat kreatif, bahkan cenderung liar. Anak saya, saya fasilitasi internet, buku, audio dll untuk belajar. Walhasil dia telah membuat Umminya(sang guru sehari-hari) kalah langkah. Dalam emailnya saya pernah baca (salah satu bentuk kontrol kami sepakat hanya pake 1 email dan password sama2 tahu)dia dapat dari komunitas hacker…wah 10 tahun bung!! Mungkin saya sudah dikadalin juga kalau dia punya email lain dan menjalin kontak dengan pihak yang berbahaya.
Dari history tidak ada situs aneh di internet yang dia masuki (mungkin sudah dia delete??) dan saya sudah pasang anti situs dewasa yang bisa dipercaya. Tapi “ketar-ketir” masih mendera saya dan Umminya. Gimana ya???
Dia terbiasa mencari tahu semua yang dia inginkan dengan google…whatever! whenever! setiap ingin tahu maka komputer menjadi temannya. Kalau pas tidak ada Umminya maka tidak ada pengawasan.
Banyak kelebihan home schooling, tetapi tidak sedikit kekhawatiran akibat dan hasilnya. Sebenarnya saya berharap sekolah formal bisa menjembatani KEINGINAN KAMI ORANG TUA YANG RINDU ANAKNYA MENJADI PEMAIN DIZAMANNYA mendapat dukungan dari sekolah secara memadai. Tidak menjadikan mereka BUDAK SEKOLAH, berkutat dengan ketatnya kurikulum yang tidak memerdekakan.
Pokoknya HIDUP SEKOLAH.
Juli 16, 2007 pada 2:31 am
Saya tertarik dengan pengalaman bapak Triawal. Apakah bapak sudah tahu tentang milis sekolahrumah@yahoogroups.com dan situs sekolahrumah.com ? Bila belum mungkin bapak bisa bergabung disana dan sharing tentang suka duka orang tua yang meng-homeschool-kan anaknya..
September 16, 2007 pada 3:40 pm
Hal ini yang coba kami lakukan di BERKEMAS. bisa dilihat di blog kami. http://www.homeschoolingberkemas.blogspot.com kami siap membantu berbagi pengalaman kepada siapa saja berminat ingin tahu lebih lanjut tentang homeschooling dengan sistem majemuk dimana bebereapa keluarga yg mempunyai visi misi yang sama melakukan aktivitas bersama.
September 27, 2007 pada 4:17 am
subhanallah….
mau dikemanakan anak-anak kita, sangat bergantung dengan orang tua dan lingkungannya.
kalo anak ingin cerdas….maka yang harus cerdas dulu adalah orang tuanya.
kalo anak ingin sholeh, yang harus sholeh dulu adalah orang tuanya.
sooo……
mulailah dari diri kita ortu untuk melakukan perubahan.
selamat berjuang
September 27, 2007 pada 1:09 pm
mbak maaf bole tau ga maksud dari feminisme
Nopember 14, 2007 pada 1:05 pm
home schooling menjadi bagian alternatif dalam pendidikan, masih memerlukan sosialisasi, apalagi di lingkungan tempat tinggal saya, yang rata2 penduduknya masih sederhana( ekonomi nya).dalam kapasitas ini, orang tua yang memiliki anak usia dini, haruslah pandai2 memilih antara menyekolahkan anak pada komunitas non Islam, yang notebene gratis, melawan home schooling yang masih asing bagi mereka.
Maret 6, 2008 pada 8:12 am
Saya ibu dr dua anak laki-laki(4 thn dan 1.5thn) dan skrg anak saya yg besar sy sklhkan di sklh formal (Play Group). Saya sangat tertarik dgn kisah Pak Triawal yang mengingatkan saya bagaimana gigihnya saya membujuk anak saya untuk mau bersekolah karena kekhawatiran saya (yg mgkn tanpa alasan). Saya wanita bekerja, dirumah anak saya diasuh oleh pembantu yang masih berumur 18 tahun. Saya khawatir sepeninggal saya bekerja pembantu saya membiarkan anak saya melakukan apa saja yang disenanginya tanpa kontrol. Walaupun sepengatahuan saya pembantu saya ini cukup baik tapi dia hanya tamatan sd (apa saya terlalu naif menilai orang).
Saya jadi merasa bersalah sendiri telah memaksakan kehendak saya kepada anak saya (walaupun dgn membujuk) karena pada awalnya dia tidak mau. Tapi sekarang setiap akan berangkat sekolah dia selalu bersemangat. Apakah yang harus saya lakukan, apakah membiarkan anak saya tetap bersekolah atau memberhentikannya dan memasukkannya kembali pada saat dia berusia tujuh tahun? Mohon saran. Terima kasih….