Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Menjadi “Ibu Tangguh”, Langka & Berharga

Posted by Farid Ma'ruf pada April 9, 2007

Baitijannati. Bila ditanyakan kepada sejuta wanita “Apakah Anda ingin menjadi seorang Ibu?” Maka bisa dipastikan mereka semua akan menjawab “Ya!” Tapi bila ditanyakan “Kapan Anda siap menjadi Ibu?” Maka bisa jadi jawabannya akan beragam. “Wah nanti dulu deh…” “Belum siap mental nih…” “Nabung dulu deh biar bisa beliin susu anak…” “Punya mobil dulu aja ya, kasihan nanti kalau anak-anak pengen jalan-jalan jadi repot…” dan lain-lain.

Jadi Ibu? Nanti Dulu ah..

Semua wanita normal bisa dipastikan ingin menjadi seorang “Ibu”. Artinya, hanya komunitas perempuan abnormal saja yang dalam hidupnya tak ingin menjadi “Ibu”. Namun, tidak semua wanita siap dan ikhlas menjadi seorang “Fullday Moom” alias ibu rumah tangga. Buktinya, banyak ibu-ibu yang lebih banyak stressnya (baca: mengeluh) daripada cerianya tatkala mengasuh anak-anaknya.

Seorang ibu yang fokus berprofesi sebagai ibu rumah tangga saja misalnya, tak jarang berkomentar: “Aduh, jenuh nih ngurus anak dan rumah terus. Rasanya, jadi kuper dan kurang wawasan nih! Beda dengan waktu saya kerja dulu, kayaknya hidup ini bergairah dan dinamis. Tapi gimana ya.., mau ninggalin anak-anak kerja rasanya nggak tega.”

Sebaliknya, ada juga sebagian wanita yang menganggap anak bisa meng-hambat karir. Bahkan ada yang mati-matian menunda hamil atau membatasi jumlah anak. Sikap para wanita ini sungguh ironis! Terkesan seolah memiliki anak adalah beban berat! Dengan kata lain, maunya jadi “Ibu” tapi giliran repot menjalankan fungsinya sebagai ibu, nanti dulu ah..

Semakin Pintar, Semakin Repot?

Anehnya, cerita tentang kerepotan seorang “Ibu” di zaman serba modern ini semakin bertambah. Terutama di daerah perkotaan, apalagi di kalangan menengah ke atas. Padahal, rata-rata sebuah keluarga hanya memiliki sedikit anak (1- 3 anak). Sementara, aneka perabotan dapur dan peralatan rumah tangga yang serba listrik sudah banyak membantu tugas-tugas rumah tangganya. Belum lagi ditambah pembantu, tukang kebun dan sopir yang selalu siap melayani tuannya.

Bandingkan dengan ibu-ibu dua atau tiga generasi yang lalu. Mereka rata-rata memiliki anak cukup banyak (4-12 anak). Perabot rumah tangga mayoritas masih manual. Bahkan, tak jarang yang masih memasak menggunakan kayu bakar dan setrika arang. Sekalipun jelas menyita tenaga, waktu dan pikiran, namun mereka tetap bisa menikmati perannya sebagai “Ibu” tanpa banyak mengeluh apalagi menghujat keadilan Tuhan.

Para ibu itu ada yang masih buta huruf, lulusan SD, SMP dan SMU, namun ada juga yang sarjana. Tapi, soal peran Ibu, mereka sepakat: mengasuh dan mendidik anak agar menjadi manusia yang berguna. Tak peduli mereka harus mengorbankan karir, asal anak-anak mereka kelak menjadi orang yang sukses, mereka rela. Sebab, dalam pandangan mereka, anak adalah penerus cita-cita orang tuanya. Kasih sayang yang dirasakan anak selama dalam pengasuhan ibunya menjadi modal perjuangan anak-anaknya untuk membahagiakan orang tuanya.

Terkikisnya Fungsi Ibu

Bisa jadi, ketidaksiapan wanita dewasa ini menjadi “Ibu” dipengaruhi banyak faktor. Di antaranya: pendidikan, karir, ekonomi dan paradigma hidup yang materialistik.

Kini, banyak wanita yang memiliki kesempatan untuk mengenyam pendi-dikan setinggi-tingginya. Bila ada kesempatan dan dana, para orang tua pasti mengusahakan putrinya untuk bisa meraih gelar sarjana. Sedikit sekali orang tua yang merestui putrinya menikah sementara kuliah belum rampung. Artinya, belum layak menikah sebelum selesai kuliah. Padahal dari sisi usia, mereka sudah cukup dewasa dan mampu untuk menikah.

Belum lagi bila wanita harus meng-hadapi tuntutan kerja dari keluarganya. Tidak cukup syarat lulus jadi sarjana saja, mereka juga dituntut untuk mapan kerja dulu sebelum boleh menikah. Maka, semakin fokus pada karir dan sekolah, bisa jadi mereka menjadi semakin merasa belum siap menjadi “Ibu”.

Atmosfer kehidupan yang serba materialis, menyebabkan banyak wanita yang turut berkompetisi mengejar karir dan kemapanan ekonomi. Tidak salah memang orang berusaha untuk meraih kehidupan yang lebih baik, bahkan harus! Namun, bila konsekuensinya mengorbankan cita-cita berumah tang-ga, menelantarkan pengasuhan dan pendampingan anak-anak, jelas akan berbahaya!

Maka, menjadi PR besar bagi para wanita untuk menyelaraskan tugas utamanya menjadi “Ibu” dengan aktivitas publik, di mana wanita juga dibutuhkan perannya dalam memba-ngun masyarakat. Baik aktivitas publik dalam arti bekerja secara formal maupun aktivitas publik yang bersifat sosial kemasyarakatan dan politis. Jangan sampai fungsi wanita sebagai “Ibu” menjadi terkikis dan hanya menyisakan fungsi “Ibu” secara biologis saja.

Generasi Tangguh, Aset Islam

Saat seorang ibu hanya berpikir bahwa anak-anak yang dilahirkannya adalah aset orang tua dan keluarga saja, sesungguhnya dia berpikiran sangat sempit. Harapan-harapan yang diba-ngun kepada anak-anaknya pastilah hanya bersandar pada kepentingan individu dan keluarga saja. Misalnya, “Kamu harus jadi sarjana dan mene-ruskan usaha keluarga, ya Nak… Selama kesempatan berkarir masih terbuka lebar, jangan pernah berhenti kerja.”

Si Ibu tak akan pernah berpikir apalagi mendorong dan merelakan anak-anaknya memenuhi panggilan Islam dan berjuang untuk Islam. Misalnya, dia menggembleng anak-anaknya agar menjadi aktivis dakwah Islam. Dengan harapan, kelak anak-anaknya dapat menjadi permata-permata Islam yang akan berjuang untuk membangkitkan kembali kejayaan Islam.

Sebaliknya, berbeda dengan seorang ibu yang sadar bahwa semua anak yang terlahir dari rahimnya adalah titipan Allah SWT. Mereka paham bahwa pada hakikatnya anak-anak mereka adalah generasi pewaris risalah Islam. Maka, orientasi pengasuhan dan pendidikan untuk anak mereka tidak berhenti hanya pada kesuksesan diri dan keluarganya, tapi juga bagi keberhasilan dakwah dan perjuangan Islam.

Ibu-ibu Muslimah yang bercita-cita seperti inilah yang sangat berharga bagi umat Islam saat ini. Karena, kondisi umat Islam yang semakin terpuruk dalam kehidupan sekuler membutuhkan generasi muda yang tak hanya cerdas dan mumpuni dalam soal ilmu dan keahlian, namun juga yang memiliki idealisme Islam. Generasi yang mempunyai keberanian dan ghiroh yang tinggi dalam memperjuangkan tegaknya Syari’ah Islam. Generasi yang tak mudah dibeli dengan uang, kekuasaan dan jabatan. Mereka akan menjadi aset besar bagi umat Islam.

Dicari: Ibu Tangguh!

Tentu tak mudah menjadi seorang ibu yang mampu melahirkan generasi Islam yang tangguh dan handal. Namun, prinsipnya adalah, dia paham bahwa tugas utama seorang ibu adalah mengasuh dan mendidik anak-anaknya menjadi pejuang Islam. Dengan begitu, dia tak pernah berpikir untuk meng-alihkan pengasuhan anak-anaknya seratus persen pada orang lain. Dia juga tidak mempercayakan sepenuhnya pendidikan anaknya hanya pada sekolah yang dipilihnya. Sebaliknya, dia selalu berusaha untuk menjadi pendamping utama dan nara sumber pertama bagi anak-anaknya.

Sama saja apakah dia seorang ibu rumah tangga saja atau juga seorang ibu yang bekerja. Baginya, tugas-tugas yang dijalankan dalam rumah tangga adalah sebuah ibadah yang mulia. Dia tidak memandang pekerjaan rumah tangga adalah pekerjaan hina yang hanya pantas dikerjakan oleh pembantu. Maka, memasak, mencuci, memandikan anak dan lain-lain tidak akan menjadi beban berat, karena dia lakukan dalam rangka ibadah.

Bukan berarti seorang ibu tangguh hanya berkutat pada kesibukan peker-jaan rumah yang tak pernah ada habisnya. Tapi, ibu tangguh adalah ibu yang juga aktif berkontribusi dalam perjuangan Islam. Sama saja apakah aktifitas yang dilakukannya adalah membuat perubahan dalam keluarga dan lingkungan terdekat sehingga lebih Islami, atau aktifitas yang lebih luas. Misalnya, aktif dalam berbagai sektor publik seperti ekonomi, sosial, budaya, pendidikan, hukum dan politik, serta mengarahkannya dalam kerangka sistem yang Islami. Siapa berminat mendaftar? (www.baitijannati.wordpress.com)

Ummu Azkiya

sumber : Tabloid Suara Islam edisi 14

About these ads

4 Tanggapan to “Menjadi “Ibu Tangguh”, Langka & Berharga”

  1. yuni said

    terima kasih, pas untuk kado temenku yang mau menikah dan bersiap jadi ibu buat anak-anaknya nanti, karena semakin banyak rintangan untuk menjadi ibu yang baik, banyak tuntutan hidup

  2. Nur Kholis said

    Islam menganjurkan bagi kaum hawa untuk dapat mendidik anak-anaknya generasigenerasi yang tangguh dan kuat. Kalau kita melihat di era sekarang ini banyak kaum hawa yang enggan menjadi seorang ibu karena khawatir terhadap diri mereka sendiri, antara lain menjadi kurang cantik, kulitnya menjadi kendor tidak seindah ketika masih sendiri,dll. Dikarenakan setelah melahirkan. Hal itu semua yang mungkin menjadi penyebab wanita tidak ingin menjalani kodratnya sebagai seorang wanita yang sejati, yaitu wanita yang terlahir dalam kondisi sebagai wanita mau melahirkan anak, menjadi seorang istri bagi suami, mau menjadi ibu bagi anak-anaknya, dan mau menjadi madrasah dalam rumah tangganya. Hal ini yang harus disadari bagai kaum hawa adalah menyadari posisinya sebagai sebagai wanita jangan sampai menyalahi kodratnya. Wanita merupakan tiang negara, baik dan buruknya sebuah negara tergantung kondisi dan peran wanita itu sendiri. Wanita adalah Lembaga Pendidikan yang Pertama yang akan menghatarkan putra-putrinya untuk menyongsong masa depan mereka agar lebih cerah dan dapat mewarisi tongkat kepemimpinan di masa mendatang. Salam selalu buat kaum hawa yang senantiasa menyadari akan kodratnya………………….triem’s.

  3. rizts said

    assalamu’alaykum

    Sayapun berpendapat demikian, tidak mungkin Allah menciptakan sesuatu yg sia2, atau salah dalam hal penciptaan. Artinya bahwa secara fisik juga berbeda antara laki2 dan wanita, tentunya juga punya hak dan kewajiban yg berbeda tapi saling melengkapi. Alla pun mengutus para Rasul laki2, bukan berarti dari kapasitas kecerdasannya kurang, tetapi memang Allah sudah memberikan hak dan kewajiban sesuai dengan kodrat masing2, dan tidaklah mungkin Allah menimpakan beban diluar kemampuan kita. Wallahu’alam

    http://rizts.blogsome.com/2007/05/28/pekerjaan-hina-wanita/

  4. sungguh menjadi refleksi diri, keluarga sudah bukan lagi menjadi prioritas utama. apalagi di kota-kota besar, kebanyakan kaum wanita menjadi wanita karier. sehingga waktunya dihabiskan untuk karier. sehingga kedekatan dengan anak berkurang.

    artikel ini sungguh sangat menginspirasi, menyadarkan, dan memotivasi bagaimana menjadi bunda yang baik untuk anak, dan keluarga..

    anak yang tangguh, adalah dari ibu yang tangguh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.358 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: