Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Menjadi Ibu yang Ibu

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 7, 2007

Umiiii….abi kerja lagii sekalii” (red: Abi kok kerja terus sih) dengan penuh penekanan anak pertamaku mengatakan itu padaku saat aku pakaikan baju kedia setelah memandikannya. Umur jagoan kecilku ini memang masih belum 3 tahun, tapi bagiku dia sudah memahami banyak hal tentang kehidupan orang-orang sekelilingnya. Memang kata-kata yang dia keluarkan kadang hanya aku yang mengerti bahkan kalau aku tidak mendengarkannya dari awal, aku hanya bisa bengong dengan ucapan-ucapan yang dia keluarkan, karena tatabahasa yang tidak bagus dan kadang-kadang bercampur dengan bahasa Inggris (yang pengucapannya pun tidak begitu jelas). Mendengar jundiku berbicara seperti itu, aku jadi terharu, dan kemudian aku peluk dia dan berkata “Abi kerja, kan untuk kita semua, Alhamdulillah masih punya umi di rumah kan?”. Entah dia mengerti atau tidak, yang pasti dia sudah tertawa dan melupakan ketidak hadiran abinya dirumah saat itu.

Ibuuu

Kalau kita amati anak-anak, mereka senang sekali kalau orang-orang yang mereka cintai selalu ada didekat mereka. Mereka akan kesepian ketika kita tinggalkan. Jangankan untuk kita tinggalkan secara fisik, kita berada disamping mereka saja tapi kita mengerjakan hal yang lain, anak-anak sudah merasa tidak senang, dan mulai mencari-mencari perhatian kita dengan berbagai cara, salah satunya yang sering dilakukan anakku adalah merebut mainan dari adeknya. Saat itupun aku membayangkan diriku sebagaimana anak kecil, aku tidak bisa bayangin kalau aku diasuh oleh orang yang tidak aku kenal. Bagaimana perasaan anak-anak yang pengasuhan dan perawatan mereka ada ditangan baby sitter?

Disini saya ambil judul ibu yang “ibu”, karena sering kali sebagian besar muslimah yang sudah menjadi ibu tapi tidak mengerti dan bahkan tidak melakukan perannya sebagai seorang “ibu”. Banyak sekali para ibu karena tidak menginginkan kehadiran anaknya didunia ini, anaknya dibuang kesungai. Banyak ibu yang karena enggan merasa capek dan menderita dalam melahirkan dan merawat anaknya, diserahkan perawatan dan pencurahan kasih sayang kepada pembantunya. Banyak para ibu yang karena takut menghambat karirnya dan merusak tubuhnya, tidak merasa perlu memberika ASI bagi anaknya. MasyaAllah….

Anak-anak itu adalah titipan Allah, dan kita harus mempertanggungjawabkannya nanti dihadapanNya.

Rasulullah SAW bersabda:

kalian semua adalah pemimpin. Dan kalian semua akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya. Seorang suami adalah pemimpin dirumahtangganya dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya. Seorang wanita (ibu) adalah pemimpin dirumah suaminya dan anak-anaknya, dan dia bertanggungjawab atas apa yang dipimpinnya” (Muttafaq Alaih)

Hadits tersebut mengatur peran ayah dan ibu dalam keluarga. Ayah sebagai pemimpin keluarga dan ibu juga memiliki peran yang penting dan strategis dalam pendidikan anak dirumah.

Mulianya peran “ibu”

Pada anak-anak usia dini, ibu memegang peran dan tanggung jawab yang terpenting. Pada usia dini, keterikatan anak dan ibu terjalin kuat. Bahkan secara khusus Al Qur’an menyebutkan adanya bakti kepada ibu, lebih dari ayah. Inilah pesan Islam yang terdalam mengenai keutamaan dan kemuliaan peran ibu pada anak-anak usia dini.

Dan kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu- bapanya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah- tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepadaKu dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu”. (Qs. Luqman [31]: 14)

Dari Abu Hurairah r.a, meriwayatkan bahwa seseorang datang kepada Rasulullah SAW dan berkata: “Ya, Rasulullah, siapakah dari keluargaku yang paling berhak saya perlakukan dengan baik?” Jawab beliau, “Ibumu”. Dia bertanya, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab, “Ibumu”. Dia bertanya lagi, “Setelah itu siapa?” Beliau menjawab,”Bapakmu”. (HR. Bukhari Muslim)

Penghormatan Islam yang tertinggi kepada para ibu, antara lain tergambar dalam sabda Nabi SAW:

Syurga itu berada di bawah telapak kaki ibu” . (HR. Ahmad)

Jannah; Bagi sang “Ibu”

Bila seorang muslimah menyadari betapa tinggi dan mulia peran ibu, niscaya ia tidak akan menukarnya dengan aktivitas-aktivitas yang hukumnya mubah. Sekiranya ia harus bekerja untuk membantu mencukupi nafkah keluarganya, maka ia akan mencari cara pelaksanaan aktivitas tersebut tanpa mengurangi keoptimalan peran keibuannya. Ia akan menjadi orang yang ingin melalui tahap demi tahap pertumbuhan anaknya diusia dini, sejak merawat kandungan, melahirkan, menyusui, mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Islam memberikan balasan atas aktivitas-aktivitas tersebut setara dengan pahala pejuang fisabilillah digaris depan medan pertempuran. Sementara ganjaran syahid adalah syurga. Siapa yang tak inginkan hal ini?

Rasulullah bersabda:

Wanita yang sedang hamil dan menyusui sampai habis masa menyusuinya seperti pejuang digaris depan fisabilillah. Dan jika ia meninggal diantara waktu tersebut, maka sesungguhnya baginya adalah mati syahid”. (HR. Thabrani)

Sungguh, motivasi meraih kemuliaan inilah yang mendorong para ibu untuk mencurahkan kesungguhannya menjalankan peranannya. Itulah sebabnya, tidak ada yang bisa menggantikan nilai strategis peran ibu dalam pendidikan anak usia dini. Ibu adalah pendidik anak yang pertama dan utama. Ibu adalah figur terdekat bagi anak. Kasih sayang sang ibu menjadi jaminan awal bagi tumbuh kembang anak secara baik dan aman. Para pakar berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional merupakan aspek penting keberhasilan pendidikan.

Kita tentunya mendambakan lahirnya generasi-generasi unggulan berkualitas pemimpin. Sudah saatnya harapan ini ditanamkan pada anak sejak usia dini. Ibulah harapan utama dalam mencetak generasi dambaan ini.

Jika sebagian ibu masih mengesampingkan peranan “ibu” ini, bahkan melalaikan dengan berbagai alasan yang tidak dibenarkan dalam Islam, maka masihkah layak dikatakan syurga ditelapak kakinya? Wallahua’lam bisshowab.

*anakku sayang, umi akan berusaha keras untuk menjadi guru terbaik bagimu, maafkan umi jika masih banyak kesalahan yang umi lakukan terhadapmu. Semoga Allah menjadikan kalian anak shaleh dan generasi pilihan*

Ini tulisan lama (waktu itu jundi saya masih 3 tahun, Alhamdulillah sekrang udah 4 Tahun, dan semakin mengerti akan lingkungan sekitarnya, dan tentunya sudah mulai bisa berbicara dengan jelas) yang pernah saya muat di website baitijannati. Tulisan ini untuk mengingatkan para ibu (terutama saya) akan perannya dalam mendidik generasinya. (Rusyda Ummu Hafidz)

About these ads

3 Tanggapan to “Menjadi Ibu yang Ibu”

  1. naning said

    Aku suka sama tulisan ini. Sebenernya dlm hati kecilku, aku bahkan sering bertanya….kapan aku bisa menjadi ‘ibu’ bagi anak-anakku, sementara sampai saat ini aku masih bekerja diluar rumah. Anakku pertama sudah berumur 8,5 thn. Tapi….tiap kali kuutarakan keinginanku pada suamiku, selalu dia minta pengertianku agar aku jangan berhenti bekerja dulu, karena kebutuhan rumah tangga belum sanggup dicukupinya seorang diri. kalo keadaanku kayak gini…..dan aku percaya, banyak sekali wanita di Jakarta sama kondisinya kayak aku, apakah kami-kami ini juga layak mendapatkan predikat seperti di tulisanmu? “maka masihkah layak dikatakan syurga ditelapak kakinya?”

  2. Rusyda said

    Subhanalloh, Sis…memang kondisi saat ini kadang memaksa para wanita dan ibu untuk keluar rumah mencari nafkah, yang pada dasarnya hukum Islam tidaklah mewajibkannya, hukumnya hanya ‘mubah’. Mubah disini bukan berarti kita harus menjalankannya. Karena Allah telah menetapkan amanah kepada para muslimah untuk menjadi ibu dan pengatur rumah tangga, inilah fungsi utama seorang perempuan.

    Namun, karena kondisi saat ini fungsi itu kadang kala kita tidak mampu untuk menjalankannya seratus persen, banyak kendalanya, salah satunya adalah tuntunan ekonomi. Banyak seorang ibu yang menjadi single parents, yang mereka harus kerja keras untuk menghidupi keluarganya. Tidak sedikit para ibu yang memiliki suami namun terkena PHK, yang akhirnya menuntut dia untuk ikut serta mencari nafkah. Dan banyak juga para suami yang kalau hanya menggantungkan pada pendapatannya saja, mungkin masih bisa makan, namun anak-anak tidak mampu mendapatkan pendidikan yang layak dan masih banyak kasus lainnya, yang intinya mengharuskan seorang ibu harus keluar rumah untuk mencari nafkah.

    Kalaulah kita termasuk dalam kondisi yang seperti itu, ini akan menjadikan diri kita harus pandai-pandai memanage waktu. Yang pada akhirnya kita mungkin harus merelakan sebagian besar waktu istirahat untuk menjalankan peran kita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga.

    Maaf kalaulah ditulisan saya itu terkesan bahwa saya menuduh para ibu yang bekerja diluar rumah tidak melaksanakan perannya sebagai ibu. Ditulisan saya itu saya hanya ingin, mengingatkan para ibu yang lebih mementingkan cariernya daripada anak dan suaminya, mengingatkan para ibu yang tidak mau susah dan lepas tanggung jawab terhadap amanah yang diberikan oleh ALlah. Itu saja sis…tidak semua ibu yang bekerja diluar rumah itu artinya dia tidak mampu menjalankan fungsi ini.

    Dan perlu sis pahami juga, dalam menjalankan fungsi kita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga tidak berarti kita harus menjalankannya sendiri, kerja sama dengan suami dan anggota keluarga lainnya juga sangat diperlukan. So kita tidaklah harus single fighter, ayah juga bertanggung jawab untuk hal ini.

    Memang sis, kondisi saat ini sangatlah miris. Hanya untuk menjalankan fungsi kita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga saja , kita tidak mampu melaksanakan 100%. Ibu yang harusnya menjadi ratu dirumah, saat ini haruslah ikut berjuang keras agar keluarganya bisa makan. Sebetulnya semua itu adalah tugas pemerintah, namun pemerintah saat ini terasa cuex saja dengan semua itu, bahkan mereka menyerukan ide feminisme kepada masyrakat. Sungguh ironis sekali….

    So, apakah kita juga akan berdiam diri saja. Tentunya kita ingin menjalankan ibadah kepada ALlah dengan sepenuhnya, tidak hanya sebagian saja. Oleh karena itu kita sebagai muslimah juga dibebankan oleh Allah untuk berdakwah, selain menjalankan fungsi sebagai ibu dan pengatur rumah tangga. Dakwah dengan tujuan menerapkan kembali syari’at Allah sangatlah utama dan penting, dan menuntut setiap lapisan masyarakat rela ikut serta didalamnya.

    Dengan diterapkannya kembali Syari’at Islam dengan berdirinya Daulah Khilafah Islamiyah…InsyaAllah salah satu syari’at Islam tentang fungsi kita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga akan kita bisa terapkan semaksimal mungkin.

    Maaf kalau saya lama tidak membalasnya…Jazakillah sis atas komentarnya.

    • risma said

      Ass. saya sangat terharu membaca artikel ini,saya pada saat ini tengah mengandung buah hati kami yang pertama. Saya harus menunggu selama kurang lebih 3 tahun baru diberikan karunia yang terindah ini. Dengan penuh kesabaran dan Do’a yang tiada henti-hentinya kami panjatkan kepada Yang Maha Kuasa agar diberikan karunia yang terindah ini, dan Alhamdulillah akhirnya do’a itu terkabul.Mudah-mudahan dengan membaca tulisan ini bisa membantu saya kelak menjadi seorang ibu yang amanah. Mohon Do’anya untuk kelancaran proses melahirkan nanti….Amin…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.358 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: