Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

MENDIDIK ANAK TAAT SYARIAH

Ditulis oleh Farid Ma'ruf di/pada Februari 4, 2007

Oleh: Ummu Azkiya

Menjadi orangtua pada zaman globalisasi saat ini tidak mudah.  Apalagi jika orangtua mengharapkan anaknya tidak sekadar menjadi anak yang pintar, tetapi juga taat dan salih. Menyerahkan pendidikan sepenuhnya kepada sekolah tidaklah cukup.  Mendidik sendiri dan membatasi pergaulan di rumah juga tidak mungkin. Membiarkan mereka lepas bergaul di lingkungannya cukup berisiko.  Lalu, bagaimana cara menjadi orangtua yang bijak dan arif untuk menjadikan anak-anaknya taat pada syariah?

Asah Akal Anak untuk Berpikir yang Benar
Hampir setiap orangtua mengeluhkan betapa saat ini sangat sulit mendidik anak.  Bukan saja sikap anak-anak zaman sekarang yang lebih berani dan agak ’sulit diatur’, tetapi juga tantangan arus globalisasi budaya, informasi, dan teknologi yang turut memiliki andil besar dalam mewarnai sikap dan perilaku anak.
“Anak-anak sekarang beda dengan anak-anak dulu.  Anak dulu kan takut dan segan sama orangtua dan guru.  Sekarang, anak berani membantah dan susah diatur.  Ada saja alasan mereka!”
Begitu rata-rata komentar para orangtua terhadap anaknya.  Yang paling sederhana, misalnya, menyuruh anak shalat.  Sudah jamak para ibu ngomel-ngomel, bahkan sambil membentak, atau mengancam sang anak agar mematikan TV dan segera shalat.  Di satu sisi banyak juga ibu-ibu yang enggan mematikan telenovela/sinetron kesayangannya dan menunda shalat. Fenomena ini jelas membingungkan anak.
Pandai dan beraninya anak-anak sekarang dalam berargumen untuk menolak perintah atau nasihat, oleh sebagian orangtua atau guru, mungkin dianggap sebagai sikap bandel atau susah diatur. Padahal bisa jadi hal itu karena kecerdasan atau keingintahuannya yang besar membuat dia menjawab atau bertanya; tidak melulu mereka menurut dan diam (karena takut) seperti anak-anak zaman dulu.
Dalam persoalan ini, orangtua haruslah memperhatikan dua hal yaitu: Pertama, memberikan informasi yang benar, yaitu yang bersumber dari ajaran Islam.  Informasi yang diberikan meliputi semua hal yang menyangkut rukun iman, rukun Islam dan hukum-hukum syariah.  Tentu cara memberikannya bertahap dan sesuai dengan kemampuan nalar anak.  Yang penting adalah merangsang anak untuk mempergunakan akalnya untuk berpikir dengan benar. Pada tahap ini orangtua dituntut untuk sabar dan penuh kasih sayang. Sebab, tidak sekali diajarkan, anak langsung mengerti dan menurut seperti keinginan kita. Dalam hal shalat, misalnya, tidak bisa anak didoktrin dengan ancaman, “Pokoknya kalau kamu nggak shalat dosa. Mama nggak akan belikan hadiah kalau kamu malas shalat!”
Ajak dulu anak mengetahui informasi yang bisa merangsang anak untuk menalar mengapa dia harus shalat.  Lalu, terus-menerus anak diajak shalat berjamaah di rumah, juga di masjid, agar anak mengetahui bahwa banyak orang Muslim yang lainnya juga melakukan shalat.
Kedua, jadilah Anda teladan pertama bagi anak. Ini untuk menjaga kepercayaan anak agar tidak ganti mengomeli Anda—karena Anda hanya pintar mengomel tetapi tidak pintar memberikan contoh.
Terbiasa memahami persoalan dengan berpatokan pada informasi yang benar adalah cara untuk mengasah ketajaman mereka menggunakan akalnya. Kelak, ketika anak sudah sempurna akalnya, kita berharap, mereka mempunyai prinsip yang tegas dan benar; bukan menjadi anak yang gampang terpengaruh oleh tren pergaulan atau takut dikatakan menjadi anak yang tidak ‘gaul’.

Tanamkan Akidah dan Syariah Sejak Dini
Menanamkan akidah yang kokoh adalah tugas utama orangtua.  Orangtualah yang akan sangat mempengaruhi tumbuh dan berkembangnya sendi-sendi agama dalam diri anak. Rasulullah saw. bersabda:

Setiap anak dilahirkan dalam keadaan fitrah. Ibu dan bapaknyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. (HR al-Bukhari).

Tujuan penanaman akidah pada anak adalah agar si anak mengenal betul siapa Allah.  Sejak si bayi dalam kandungan, seorang ibu bisa memulainya dengan sering bersenandung mengagungkan asma Allah.  Begitu sudah lahir, orangtua mempunyai kesempatan untuk membiasakan si bayi mendengarkan ayat-ayat al-Quran.  Pada usia dini anak harus diajak untuk belajar menalar bahwa dirinya, orangtuanya, seluruh keluarganya, manusia, dunia, dan seluruh isinya diciptakan oleh Allah. Itu sebabnya mengapa manusia harus beribadah dan taat kepada Allah.
Lebih jauh, anak dikenalkan dengan  asma dan sifat-sifat Allah. Dengan begitu, anak mengetahui betapa Allah Mahabesar, Mahaperkasa, Mahakaya, Mahakasih, Maha Melihat, Maha Mendengar, dan seterusnya.  Jika anak bisa memahaminya dengan baik, insya Allah, akan tumbuh sebuah kesadaran pada anak untuk senantiasa mengagungkan Allah dan bergantung hanya kepada Allah.  Lebih dari itu, kita berharap, dengan itu akan tumbuh benih kecintaan anak kepada Allah; cinta yang akan mendorongnya gemar melakukan amal yang dicintai Allah.
Penanaman akidah pada anak harus disertai dengan pengenalan hukum-hukum syariah secara bertahap.  Proses pembelajarannya bisa dimulai dengan memotivasi anak untuk senang melakukan hal-hal yang dicintai oleh Allah, misalnya, dengan mengajak shalat, berdoa, atau membaca al-Quran bersama.
Yang tidak kalah penting adalah menanamkan akhlâq al-karîmah seperti berbakti kepada orangtua, santun dan sayang kepada sesama, bersikap jujur, berani karena benar, tidak berbohong, bersabar, tekun bekerja, bersahaja, sederhana, dan sifat-sifat baik lainnya.  Jangan sampai luput untuk mengajarkan itu semua semata-mata untuk meraih ridha Allah, bukan untuk mendapatkan pujian atau pamrih duniawi.

Kerjasama Ayah dan Ibu
Tentu saja, anak akan lebih mudah memahami dan mengamalkan hukum jika dia melihat contoh real pada orangtuanya.  Orangtua adalah guru dan orang terdekat bagi si anak yang harus menjadi panutan.  Karenanya, orangtua dituntut untuk bekerja keras untuk memberikan contoh dalam memelihara ketaatan serta ketekunan dalam beribadah dan beramal salih.  Insya Allah, dengan begitu, anak akan mudah diingatkan secara sukarela.
Keberhasilan mengajari anak dalam sebuah keluarga memerlukan kerjasama yang kompak antara ayah dan ibu. Jika ayah dan ibu masing-masing mempunyai target dan cara yang berbeda dalam mendidik anak, tentu anak akan bingung, bahkan mungkin akan memanfaatkan orangtua menjadi kambing hitam dalam kesalahan yang dilakukannya. Ambil contoh, anak yang mencari-cari alasan agar tidak shalat.  Ayahnya memaksanya agar shalat, sementara ibunya malah membelanya. Dalam kondisi demikian, jangan salahkan anak jika dia mengatakan, “Kata ibu boleh nggak shalat kalau lagi sakit. Sekarang aku kan lagi batuk, nih…”

Peran Lingkungan, Keluarga, dan Masyarakat
Pendidikan yang diberikan oleh orangtua kepada anak belumlah cukup untuk mengantarkan si anak menjadi manusia yang berkepribadian Islam.  Anak juga membutuhkan sosialisasi dengan lingkungan tempat dia beraktivitas, baik di sekolah, sekitar rumah, maupun masyarakat secara luas.
Di sisi inilah, lingkungan dan masyarakat memiliki peran penting dalam pendidikan anak. Masyarakat yang menganut nilai-nilai, aturan, dan pemikiran Islam, seperti yang dianut juga oleh sebuah keluarga Muslim, akan mampu mengantarkan si anak menjadi seorang Muslim sejati.
Potret masyarakat sekarang yang sangat dipengaruhi oleh nilai dan pemikiran materialisme, sekularisme, permisivisme, hedonisme, dan liberalisme merupakan tantangan besar bagi keluarga Muslim.  Hal ini yang menjadikan si anak hidup dalam sebuah lingkungan yang membuatnya berada dalam posisi dilematis.  Di satu sisi dia mendapatkan pengajaran Islam dari keluarga, namun di sisi lain anak bergaul dalam lingkungan yang sarat dengan nilai yang bertentangan dengan Islam.
Tarik-menarik pengaruh lingkungan dan keluarga akan mempengaruhi sosok pribadi anak.  Untuk mengatasi persoalan ini, maka dakwah untuk mengubah sistem masyarakat yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam mutlak harus di lakukan. Hanya dengan itu akan muncul generasi Islam yang taat syariah. Insya Allah. []

BOX:

Sembilan Tips Mendidik Anak Taat Syariah
Tumbuhkan kecintaan pertama dan utama kepada Allah.
Ajak anak Anda mengidolakan pribadi Rasulullah.
Ajak anak Anda terbiasa menghapal, membaca, dan memahami al-Quran.
Tanamkan kebiasaan beramal untuk meraih surga dan kasih sayang Allah.
Siapkan reward (penghargaan) dan sakgsi yang mendidik untuk amal baik dan amal buruknya.
Yang terpenting, Anda menjadi teladan dalam beribadah dan beramal salih.
Ajarkan secara bertahap hukum-hukum syariah sebelum usia balig.
Ramaikan rumah, mushola, dan masjid di lingkungan Anda dengan kajian Islam, dimana Anda dan anak Anda berperan aktif.
Ajarkan anak bertanggung jawab terhadap kewajiban-kewajiban untuk dirinya, keluarganya, lingkungannya, dan dakwah Islam. []

Al Waie edisi 64

16 Tanggapan ke “MENDIDIK ANAK TAAT SYARIAH”

  1. kusnan Berkata:

    tolong beri contoh /jalan untuk membangun keluarga sakinah mawadah warohmah.kiat untuk kuat iman untuk sebuah keluarga agar tidak terjadi suatu perselingkuhan dan kehancuran dalam rumah tangga.trim’s ……….amin ya robbal allamin.

  2. Beni Berkata:

    Pendidikan awal untuk anak dengan memasukkannya ke sekolah dasar agama Islam, agar mereka mempunyai dasar agama yang kuat kelak.

  3. urip Berkata:

    BOLELAH TAMBAH ILMU

  4. ratna Berkata:

    terima kasih atas artikelnya.
    Sangat berguna sekali, karena memang susah-susah gampang mendidik anak itu, apalagi tidak cuma agar anak menjadi pintar saja tp lebih dari itu. Menjadi anak yang shaleh, yang bermanfaat buat dirinya, keluarga, lingkungan dan tentunya agamanya.

  5. fuzail Berkata:

    generasi sekarang menunjukkan generasi kedepan. kalau kita tidak menjaga anak kita dari sekarang kapan lagi kita perbaiki moral gfenerasi kita dalam negara tercinta

  6. muhammadsastra Berkata:

    yuyu

  7. muhammadsastra Berkata:

    bagai mana cara medidik anak yang bagus dan soleh

  8. YULFITAAINI Berkata:

    BAGAIMANA CARA YANG PRAKTIS,AGAR ANAK CEPAT DALAM MENGHAFAL ALQUR’AN

  9. ihsan Berkata:

    Astaghfirullah, saya dan istri harus sering banget membaca istighfar karena selalu dibuat pusing oleh anak yang pertama Kelas I SMA, yang kedua KElas III MTs, yang ketiga KElas II SD (alhamdulillah semuanya disekolah unggulan). AKhir-akhir ini anak pertama mulai berani berbohong (telat disekolah gak boleh masuk tapi gak pulang juga sampai 8X; pulang telat ke warnet dll), puncaknya kemarin sekolah libur tapi malah nonton sama ex. teman2 SMP bahkan sampai gak sholat ‘ashar, masya Allah), akhirnya krn saya dan istri merasa dibohongi yang sangat keterlaluan, rambutnya yg dibanggakan digunduli oleh istri dan saya memukul dg sadar demi menjalankan Sunnah Rasulullah yg intinya “apabila anak yg sudah baligh tidak menurut perintah ortu dan Allah, maka pukullah!”. Terus terang sayang sangat menyesal telah memukul anak saya, tetapi nasihat halus dan pendekatan seperti teman yg ditempuh istri saya kurang berhasil sehingga istri menyerahkan kepada saya mau dihalus atau dikasar terserah. BAgaimana baiknya mendidik anak saya yg mulai remaja, karena berbagai tips mendidik anak secara Islami telah kami lakukan dan dengan contoh langsung (bil haal), seperti sholat selalu berjama’ah, puasa senin kamis, sopan santun dll. Mohon masukan semoga dapat membantu kami, tks.

  10. fatimah Berkata:

    cip,semoga ini bermanfaat buat semua!amiiin dan buat aku tentunya

  11. santun Berkata:

    iya, sangat bermanfaat o iya kirim k enail q ya heheheh

  12. opal Berkata:

    terima kasi tulisannya cukup berguna bagi saya

  13. zula Berkata:

    Alhamdulillah sekarang saya sedikit banyak tahu tentang cara mendidik anak yang benar menurut islam, mungkin perlu kerja ekstra, sebagai orang tua harus bersabar mendidik anak-anaknya supaya menjadi anak yang sholeh dan sholehah.amin Tanks………..

  14. hudza Berkata:

    alhamdulillah… ada panduan, sebentar lagi aku akan menjadi ayah… terima kasih untuk artikel bagusnya…

    ______________________________________________________
    Belanja Buku Islam Online di http://www.laroci.com

  15. nani Berkata:

    nama saya nani saya mempunyai 1 orang anak yang baru berusia 11 bulan. saya sangat menyayangi anak saya. bahkan saking sayangnya saya ga mau berikan anak saya pada pengasuh rumah tangga saya. saya takut nanti mempengaruhi perkembangan nya.bagaimana cara saya mendidik anak saya mengingat anak saya baru berusia 11 bulan ? terima kasih

  16. Devin Berkata:

    kuncinya sabar, percaya, selain terus berusaha mintalah petunjuk kepada Allah untuk diberikan jalan. Sekarang ini baru saya seorang bisa mengajarkan anak saya untuk belajar yang usianya 5 tahun yang sebelumnya oleh ibunya saja, selalu beralasan ini itu, bacalah buku atau membaca artikel tentang mendidik anak. Berikan pendidikan dari kita sebisa atau semampu kita. Semoga para Ayah bisa menjalaninya dengan penuh kesabaran.

Tinggalkan Balasan

XHTML: Anda dapat gunakan tag ini: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>