Rumahku Surgaku

Keluarga Sakinah Mawaddah wa Rohmah

Ibu dan Pendidikan Usia Dini

Posted by Farid Ma'ruf pada Februari 2, 2007

Oleh: Siti Nuryati

baitijannati – ”Hari Ibu”, begitu istimewanya sematan tersebut.  Tak kita pungkiri bahwa posisi ibu sangat mulia hingga layak mendapat penghargaan khusus, yakni diperingati secara khusus tepatnya setiap tanggal 22 Desember tiba.  Namun dibalik kemuliaan yang tersimpan dalam sosok seorang ibu, ada yang mesti kita renungkan saat ini. Pertanyaan besarnya adalah sudah sejauh mana kita memahami peran agung yang diemban seorang ibu hingga kita pun tak merasa malu untuk menyandang keagungan gelar tersebut. 

Ibu, Pendidik Pertama dan Utama

Tugas utama seorang wanita adalah sebagai ibu dan pengatur rumah tangga (ummu a rabbatul bait).  Tugas utama ini tidak bisa tergantikan, karena Allah SWT telah  menetapkan bahwa wanitalah tempat ‘persemaian’generasi manusia dan tempat  menghasilkan ASI (Air Susu Ibu) sebagai makanan terbaik di awal kehidupannya.  Hal ini harus kita pahami sebagai fungsi utama wanita dalam kehidupan ini.  Sebab hal yang demikian itu tidak bisa diperankan oleh laki-laki.

Untuk menjamin kelangsungan hidup manusia, Allah SWT telah menetapkan beberapa hukum yang khusus buat wanita.  Diantaranya hukum tentang kehamilan, kelahiran, penyusuan, pengasuhan anak dan masa iddah bagi wanita yang ditinggal  suami (karena cerai/meninggal).  Bahkan Allah SWT telah memberikan keringanan kepada wanita agar dirinya mampu menjalankan tugas-tugas tersebut dengan baik, seperti tidak wajib bekerja mencari nafkah bagi dirinya maupun keluarganya, boleh berbuka puasa pada bulan Ramadlan bagi wanita hamil dan menyusui. Semua hukum tersebut adalah untuk melindungi wanita agar tugas utamanya dapat terlaksana dengan baik.

Islam telah menempatkan wanita pada posisi yang mulia dengan tugasnya sebagai ibu.  Tanpa keikhlasan dan kerelaan seorang ibu memelihara janin yang dikandungnya selama 9 bulan, tidak akan lahir anak manusia ke bumi ini.  Demikian pula dengan kerelaannya dan kesabarannya ketika menyusui dan mengasuh bayinya, hal itu akan berperan besar terhadap pertumbuhan, perkembangan dan kesehatan anak.  Posisi seorang wanita yang ridlo dengan kehamilannya sebanding (dari segi pahala) dengan seorang prajurit yang berperang di jalan Allah dan ia sedang berpuasa.

Seorang ibu memiliki peran yang sangat  vital dalam proses pendidikan anak sejak dini, sebab ibulah sosok yang pertama kali berinteraksi dengan anak, sosok pertama yang memberi rasa aman, dan sosok pertama yang dipercaya  dan didengar  omongannya.  Karenanya ibu menjadi sekolah pertama bagi anak-anaknya.  Peran itu sangat menentukan kualitas masyarakat dan negaranya. Sedemikian penting peran ibu dalam menentukan masa depan masyarakat dan negaranya, sampai kaum perempuan (ibu) tersebut diibaratkan tiang negara.

Kedekatan fisik dan emosional ibu dengan anak sudah terjalin secara alamiah mulai masa mengandung, menyusui dan pengasuhan.  Kasih sayang seorang ibu merupakan jaminan awal untuk tumbuh kembang anak dengan baik dan aman.  Para ahli  berpendapat bahwa kedekatan fisik dan emosional merupakan aspek penting keberhasilan pendidikan.  Di sinilah arti penting peran ibu terhadap pendidikan anak usia dini.

Untuk menjalani peran ini Allah SWT telah memberikan potensi pada ibu berupa kemampuan untuk hamil, menyusui serta naluri keibuan.  Disamping itu, Allah SWT juga telah menetapkan serangkaian syariat yang memerintahkan ibu untuk menjalankan perannya sesuai dengan potensi yang telah Allah berikan.  Seperti anjuran untuk menyusui anak selama 2 tahun, mewajibkan ibu untuk mengasuh anaknya selama masa pengasuhan (hadlonah), yakni sampai anak bisa mengurus dirinya sendiri.  Hal ini akan mendorong ibu untuk melakukan semua tanggung jawabnya semata karena mematuhi perintah Allah SWT. Sesungguhnya anak bagaikan ‘radar’ yang dapat menangkap setiap obyek yang ada di sekitarnya. Perilaku ibu adalah kesan pertama yang ditangkap anak.

Apabila seorang ibu memiliki kepribadian agung dan tingkat ketaqwaan yang tinggi, maka kesan pertama yang masuk ke dalam benak anak adalah kesan yang baik.
Kesan yang baik ini akan menjadi landasan yang kokoh bagi perkembangan kepribadian anak ke arah ideal yang diinginkan.  Disamping itu, anak sendiri membutuhkan figur contoh (qudwah) dalam mewujudkan nilai-nilai yang ditanamkan kepadanya selama proses belajar di masa kanak-kanak, sebab akal anak belum sempurna untuk melakukan proses berpikir.  Ia belum mampu menterjemahkan sendiri wujud nilai-nilai kehidupan yang diajarkan kepadanya.  Kekuatan figur ibu  akan membuat anak mampu untuk menyaring apa-apa yang boleh dan tidak boleh diambil dari lingkungannya.  Karena anak menjadikan apa yang diterima dari ibunya sebagai standar nilai.

Para pakar pendidikan mengajarkan bahwa keteladanan adalah media pendidikan yang paling efektif dan berpengaruh dalam menyampaikan tata nilai kehidupan.   Dalam hal ini ibulah orang yang paling tepat untuk berperan sebagai qudwah pertama bagi anak. Ibulah yang paling besar peranannya dalam memberi warna pada pembentukan kepribadian anak, sehingga dibutuhkan ibu yang berkualitas yang akan mampu mendidik anaknya dengan baik. Pembinaan kepribadian anak menjadi  tanggung jawab orang tua terutama ibu.  Keluarga berperan menjadi wadah pertama pembinaan agama dan sekaligus membentenginya dari pengaruh-pengaruh negatif yang berasal dari luar.  Peran orang tua terutama ibu menjadi penting karena ibulah yang paling tahu bagaimana perkembangan dan kemajuan anak, baik fisik maupun mentalnya. <!–[if !supportLineBreakNewLine]–>
<!–[endif]–>

Kehadiran orang tua (terutama ibu) dalam perkembangan jiwa anak amat penting.  Bila anak kehilangan peran dan fungsi ibunya, sehingga dalam proses tumbuh kembangnya anak kehilangan pembinaan, bimbingan, kasih sayang, perhatian dan  sebagainya, maka anak akan mengalami “deprivasi maternal”.  Deprivasi maternal dengan segala dampaknya dalam perkembangan dapat terjadi tidak hanya jika anak semata-mata kehilangan figur ibu secara fisik (loss), tetapi juga bisa dikarenakan tidak adanya (lack) peran ibu yang amat penting dalam proses imitasi dan identifikasi anak terhadap ibunya.  Deprivasi maternal pada anak usia dini jauh lebih besar pengaruhnya daripada anak pada usia yang lebih besar.  Keadaan ini menyebabkan hubungan kasih sayang antara ibu dan anak terputus.  Sering dijumpai pada anak-anak yang semacam ini suatu gangguan yang dinamakan “Attachment Disorder” atau “Failure to Thrive”.  Pada kelainan kejiwaan semacam ini biasanya anak telah  mengalami penyimpangan (distorsi).

Pada awal perkembangan, anak memerlukan stimulasi dini yang diberikan oleh ibu melalui panca indra fungsi-fungsi mental emosional agar anak terpacu
dan berkembang.  Anak-anak yang dibesarkan dalam keluarga yang mengalami deprivasi maternal juga mempunyai resiko tinggi untuk menderita gangguan perkembangan kepribadiannya, yaitu perkembangan mental intelektual, mental emosional bahkan perkembangan psikososial dan spiritualnya.  Tidak jarang dari mereka bila kelak telah dewasa akan memperlihatkan berbagai perilaku menyimpang,  anti sosial, bahkan tindak kriminal.

Kondisi inilah yang semestinya menyadarkan para ibu (atau calon ibu)  akan pentingnya peran ibu dalam mencetak generasi unggul.  Para ibu tak boleh terlena dengan julukan ”surga di bawah telapak kaki ibu”. Mestinya keagungan julukan itu mendorong para ibu untuk menjalankan peran terbaiknya, terutama pada masa-masa mendidik anak yang berada pada tahap usia dini.(*)

Penulis adalah ibu rumah tangga, tinggal di Bogor

 

 
About these ads

8 Tanggapan to “Ibu dan Pendidikan Usia Dini”

  1. ida said

    yaaaa
    anak adalah aset keluarga dan negara…
    ibu lah yang membentuk nya sedari kecil….
    anak tergantung didikan sedari kecil ,,,,

  2. Setuju bosss… Al Ummi awwalul madrosah. Wahai Ibu-ibu let’s
    make Indonesia strong from home !!!

  3. lukmawati said

    anak adalah mutiara seyogianya kita dapat menjaga dan membimbingnya dalam mncapai tugas prkembangannya secara maksimal.

  4. zaa said

    anak @ mrpkan pemberian dari Allah SWT,qta hrs menjaga & merawat ny dengan benar,.krna klangsungan khidupan in akan d terus kan oleh generasi muda qta, yaitu anak2 qta kelak ;)
    ibu is the best, luv u mam

  5. Ishak Agus said

    Ya benar, Di tangan ibulah perkembangan anak ditentukan. Akan lebih bijak lagi apabila si ibu juga memperhatikan dan memahami karakter dan bakat anak sejak dini.

  6. Devy said

    Yaa, saya setuju dengan paparan di atas, seorang ibu mempunyai peran yang sangat besar bagi tumbuh kembang anak,ibu merupakan tiang negara karena dari lingkungan keluarga lah lahir seorang anak bagi masa depan dunia, untuk itu saya sangat sedih kalau ada seorang ibu yang begitu menuntut kesempurnaan anak atau menginginkan anak menjadi sesuai dengan kehendaknya, padahal dia tidak mempunyai konsep atau figur yang baik bagi anaknya, semoga artikel ini bisa menjadi panduan atau motivasi bagi ibu-ibu untuk terus mengarahkan metoda pembelajaran yang baik dan mampu mengeksplor karakter anak yang soleh dan membanggakan orang tuanya, karena pada dasarnya semua anak itu unik dan memiliki potensi yang baik, subhanallah maha besar allah yang menciptakan manusia sebagai makluk yang paling sempurna.

  7. abdul malik said

    kdrt memang harus dibasmi sampai keakarnya

  8. Wirawan said

    Jangan asal membeikan mainan utk anak kita, sebaiknya kita memberikan mainan edukatif utk anak kita sebagai pondasi dalam pengembangan karakter dan kecerdasannya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 5.367 pengikut lainnya.

%d blogger menyukai ini: